Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 11 Juli 2009

Mengenal Ustadz Segaff bin Hasan Baharun, Penulis Buku asal Raci

Wanita Jadi Inspirasi, Buku Pertama Usia 17 Tahun

Ustadz Segaff bin Hasan Baharun tidak hanya pengasuh Ponpes Darullughah Wadda'wah Raci Bangil. Diam-diam dia juga seorang penulis buku. Sudah tujuh judul buku yang dia tulis dan terbitkan.



Problematika Haid dan Permasalahan Wanita

Pengarang: Ust. Segaf Hasan Baharun
Harga: Rp. 18.000,- Hubungi : 08179337720
---
FANDI ARMANTO, Pasuruan



SURBAN putih melekat di atas kepala Ustadz Segaff. Saat diajak bicara, tutur bicara lelaki 34 tahun itu halus dan berisi. Ruang tamu rumah Ustadz Segaff semakin mencerminkan intelektualitasnya. Sebuah lemari berdiri, berisi penuh buku agama, pengetahuan umum sampai ensiklopedia.

Di antara tumpukan itu, tujuh di antaranya adalah hasil tulisan Ustadz Segaff sendiri. Tujuh buah judul buku tersebut diantaranya berjudul Bagaimanakah anda menikah dan mengatasi permasalahannya. Probelamatika haid dan permasalahan wanita. Sudah sahkan puasa anda? Bagaimanakah Anda membagikan harta warisan dengan benar. Bagaimanakah Anda mengenalkan salat dengan benar. Manasik Umrah dan Ziarah. Kumpulan doa-doa nabi dan wali.

Buku-buku itu bukan hanya sudah dilempar ke pasar nasional. Tapi juga sudah dipasarkan sampai ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Suami dari Syarifah Fauziah itu bukan tanpa alasan menulis buku yang bernafaskan Islam. Selain pengajar di ponpes Darullughah, putra kedua dari Hasan Baharun ini juga ahli ilmu Fiqih hasil studinya mulai dari SD sampai sekolah tinggi di STAI Darullughah.

Ayahnya Hasan Baharun dikatakannya juga seorang penulis selain menjadi pengasuh ponpes. Dari darah ayahnya itu Ustadz Segaff memiliki kebiasaan menulis. Ia pun ingin berbuat lebih selain mengajar di ponpes. Itulah yang menjadi dasar kenapa Ustadz Segaff harus menulis dan tulisannya itu dapat diamalkan oleh banyak orang.

"Saya mulai menulis buku karena Abah saya juga memiliki kebiasaan itu. Hingga akhirnya saya berguru ke Habib Sholeh, salah seorang pengajar di ponpes. Setelah belajar ke Habib Sholeh, buku pertama jadi. Itu ketika umur saya 17 tahun," katanya.

Buku karya pertamanya berjudul problematika haid dan permasalahan wanita (PWHPW). Buku ini pula yang menjadikan namanya kini banyak dikenal orang. Saat ini saja buku pertamanya itu sudah berhasil menembus angka 30 ribu cetakan dan sudah direvisi beberapa kali. Ia pun mengakui buku pertamanya itu termasuk best seller bagi dirinya.

Menulis buku yang bisa mencapai puluhan ribu cetakan juga bukan perkara mudah. Sebelum menulis, Ustadz Segaff harus belajar dan menimang-nimang segala pengetahuan yang ia ketahui. Baru setelah inspirasi ada dan tema tulisan tersirat, pekerjaan menulis buku dilakukan.

Di awal penulisan PWHPW, ia mengaku sempat kesulitan. Tapi, buku itu akhirnya dapat terbit juga. Dengan cetakan bermodal ngutang, ternyata buku itu diminati banyak orang. "Memang ngutang untuk biaya penerbitannya. Tapi buku pertama saya itu memakai percetakan milik ponpes sendiri. Namun setelah dicetak, ternyata buku saya laris. Tentunya saya senang," ucapnya.

Di umur yang masih belasan, Ustadz Segaff sudah berhasil dengan karya pertamanya. Namun, bukan itu yang membuatnya bangga. Ia lebih senang jika karyanya bermanfaat bagi banyak orang. "Seperti buku saya lainnya yang berjudul bagaimanakah Anda menikah dan mengatasi permasalahannya. Di buku ini saya menerangkan sikap seseorang jika menikah dan kehidupan setelahnya," ujarnya.

Buku itu, kata dia, banyak mengajarkan tentang cara-cara yang semestinya dilakukan oleh seorang umat muslim ketika sudah menikah. Di buku itu pula, sumber tulisanya juga masih mengutip dari buku-buku ilmu syariat Islam. Ilmu itu pula yang selalu menjadi dasar setiap karyanya. Intinya Ustadz Segaff senang tiap buku karyanya yang dibaca orang dapat dipahami kemudian dipraktikkan di kehidupan.

Ustadz Segaff akui selain syariat tentang Islam, inspirasi dalam bukunya adalah wanita. "Wajar kan? Saya laki-laki, pastinya ada perhatian khusus ke wanita. Wanita itu juga selalu disepelekan. Karena itulah karya buku saya rata-rata inspirasinya wanita. Itu sudah terjadi ketika awal mula saya menulis PWHPW," ucapnya.

Seringnya menulis tentang wanita juga membuat Ustadz Segaff jadi sering dimintai menjadi pembicara jika ada pertemuan ataupun mengisi ceramah agama. "Saya pun kini menjadi konsultan wanita dan seringkali dimintai pendapat oleh para relasi. Karena itu saya dijuluki Bapak Wanita," tukasnya.

Tapi, pada intinya ia tetap senang terus berkarya menciptakan buku. Sebab dengan buku itu, ia bisa mengajarkan orang-orang yang membaca karyanya. Sehingga walau dengan buku, ia merasa sudah menambah pahala. Apalagi jika yang membaca benar-benar mengamalkan ilmunya sesuai dengan bahan tulisan di dalam buku.

Ustadz Segaff hanya ingin setiap tahunnya bisa merilis buku. Bukan komersil yang ia pikirkan dalam setiap karya bukunya. "Tapi karena saya memang gemar menulis. Apalagi setiap hari itu kan kehidupan berjalan. Tentunya ada hal baru juga kan?" katanya sedikit bertanya.

Setiap hal baru itulah yang membuat Ustadz Segaff harus fleksibel. Termasuk juga menambah pengetahuannya hingga ia bisa mnemukan inspirasi baru lagi untuk menulis. Untuk mencari inspirasi, Ustadz Segaff akui bukan hanya tinggal duduk dan mengarang lalu menulis. Tapi inspirasi itu juga ia dapatkan dari problematika yang ada pada setiap manusia.

Tak pelak sebuah BlackBerry (BB) warna merah selalu ia bawa. BB itu selalu connect dengan internet. Dari situlah ia selalu kebanjiran email atau SMS dari semua orang yang selalu mengirimkan kabar tentang segala problematika kehidupan. "Setiap hari ada ratusan SMS yang masuk. Tentunya SMS itu adalah masalah setiap orang. Nah, dari situ inspirasi muncul," ucapnya.

Sebenarnya bukan hanya dari BB miliknya saja ia connect dengan internet. Sebab di ponpes sendiri, ia juga selalu membaca halaman web milik ponpes. Tentu saja halaman web ponpes itu juga banyak dikunjungi orang yang pastinya ingin mendapatkan pengetahuan ilmu atau sekedar berkeluh kesah. Jadi sumber inspirasi Ustadz Segaff semakin beragam.

Sembari mengajar di ponpes, Ustadz Segaff yakin dirinya tetap terus bisa berkarya menulis buku. Dengan menulis buku, selain keuntungan komersil, ayah empat putra itu juga tetap mengamalkan ilmu Fiqih-nya yang dikuasainya.

"Untuk urusan komersil, saya pasti tetap memikirkannya. Tapi saya tidak perlu resah karena mencetak buku karya saya kan bisa dilakukan di ponpes. Kadang santri saya juga ikut memasarkan buku. Tapi bukan artinya saya meyuruh santri. Justru biasanya mereka (santri) yang ingin memasarkannya sendiri," katanya.

Ust Segaff pun msh punya banyak waktu untuk terus berkarya. Jika dirunut, jadwal mengajarnya di ponpes selama 1 seminggu ada 40 jam. Di ponpes Darullughah ada sekitar 2.500 santri yang setiap harinya memiliki kehidupan berbeda. Belum lagi internet yang selalu online dan BB yang ada di tangannya, selalu membawa inspirasi baru.

Ponpes Darullughah sendiri seringkali mendapat kunjungan tamu dari berbagai Negara. Tamu-tamu itu terkadang membawa cerita yang berbeda. "Kadang pula tamu saya juga membawa oleh-oleh buku karya saya. Makanya buku saya ada yang sampai Malaysia dan Brunei Darussalam. Tapi sebenarnya bukan itu. Yang penting bagaimana saya bisa menulis dan buku itu bermanfaat untuk diamalkan oleh setiap orang," ujar Ustadz Segaff. (yud)
http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=90629


0 Comments: